Tokoh Fenomenal dari kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan dengan sejarah panjang yang begitu masyhur. 

Dalam perjalanannya, mulai dari masa berdirinya Majapahit, masa jaya sampai dengan masa runtuhnya, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh beberapa tokoh fenomenal yang berbeda-beda. 

Ada cukup banyak tokoh fenomenal yang memerintah Kerajaan Majapahit sampai pada masa keruntuhannya. Kehidupan politik dari masing-masing tokoh fenomenal ini berbeda-beda, tantangan dan rintangan yang dihadapi pun juga berbeda. Sebagai kerajaan besar dengan sejarah panjang, masing-masing tokoh ini memiliki cara memimpin dan mengendalikan pemerintahan yang tidak sama. Masing-masing tokoh biasanya juga meninggalkan peninggalan Kerajaan Majapahit yang bisa dijadikan sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit.

Yang pertama ada  Raden Wijaya 

Pada masa kepemimpinan, Raden Wijaya nampaknya lebih mengutamakan melakukan konsolidasi dan memperkuat pemerintahan. 

Hal Ini perlu dilakukan karena pada masa awal kerajaan Majapahit tersebut adalah masa transisi dari kerajaan sebelumnya yaitu kerajaan Singhasari menuju kerajaan baru yaitu Kerajaan Majapahit. 

Beberapa strategi dilakukan Raden Wijaya untuk memperkuat pemerintahan, seperti dengan menjadikan Majapahit sebagai pusat pemerintahan. Kemudian memberikan posisi penting kepada para pengikut setianya, dan menikahi keempat putri Kertanegara (raja Singhasari). 

Raden Wijaya sendiri meninggal pada tahun 1309 dan dimakamkan di Candi Sumberjati atau Candi Simping. 

Tokoh yang kedua adalah Jayanegara

Jayanegara adalah putra Raden Wijaya namun bukan dari permaisuri namun dari selirnya.

Karena Raden Wijaya tidak memiliki putra dari permaisuri, maka Jayanegara yang kemudian menjadi raja Majapahit. Jayanegara sendiri memerintah kerajaan Majapahit dalam usia yang masih sangat muda. 

Bahkan dikisahkan juga bahwa Jayanegara memiliki tabiat yang tidak bagus sebagai raja. Pemerintahan Jayanegara ini tidak begitu kuat sehingga banyak muncul pemberontakan. 

Dan pemberontakan ini diinisiasi oleh orang-orang di lingkaran Istana Majapahit yang dulunya merupakan orang kepercayaan Raden Wijaya ayahnya. 

Tokoh fenomenal selanjutnya adalah Tribhuwana Tungga Dewi 

Jayanegara wafat pada tahun 1328 dan tidak memiliki keturunan. Karena Jayanegara tidak memiliki keturunan, maka tahta diserahkan kepada Gayatri atau Rajapatni yang merupakan permaisuri Raden Wijaya. Namun karena Gayatri telah menjadi Bhiksuni, maka diwakilkan kepada putrinya yang bernama Tribhuwana Tunggadewi. 

Masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi ini bisa dikatakan sebagai awal kejayaan Kerajaan Majapahit dibawah kepemimpinan seorang wanita.

Meski masih ada beberapa pemberontakan, namun secara umum berhasil ditumpas. Suami Tribhuwana Tunggadewi bernama Cakradhara dan menjabat Bhre Tumapel dengan gelar Kertawardana. 

Pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi lebih kuat dengan adanya Mahapatih Gajah Mada. Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Majapahit mengadakan perluasan kekuasaan besar-besaran di berbagai daerah di Nusantara. 

Tokoh selanjutnya adalah Hayam Wuruk.

Prabhu Hayam Wuruk ini adalah raja yang berhasil membawa masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Dengan dimulai dari Trubhuwana Tunggadewi dalam ekspansi ke berbagai daerah, kemudian Hayam Wuruk menyempurnakan dengan tata kelola yang bagus. 

Gelar Hayam Wuruk adalah Rajasanegara. Salah satu faktor penunjang kesuksesan Hayam Wuruk dalam memerintah Majapahit adalah keberadaan para pembantunya yang sangat mumpuni. Sebut saja Mahapatih Gajah Mada, kemudian Adityawarman dan Mpu Nala. Orang-orang tersebut memiliki kapasitas yang sangat mumpuni dalam menjalankan sebuah negara untuk mencapai kemajuan. 

Mpu Nala sebagai pimpinan armada laut juga sangat piawai dalam menjalankan setrategi. Dengan kebesaran Kerajaan Majapahit, tak sulit bagi Majapahit untuk menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan tetangga yang disebut dengan Mitrekasatat. 

Tokoh Selanjutnya adalah Kusumawardani-Wikramawardhana.

Kusumawardhani dijadikan ratu di pusat Majapahit sedangkan putra laki-laki dari selir Prabhu Hayam Wuruk yaitu Bhre Wirabumi (Minak Jingga) dijadikan sebagai raja kecil di Blambangan. Bhre Wirabumi atau Minak Jingga ini menjadi raja di Blambangan namun tetap berada di bawah kekuasaan Majapahit atau tunduk kepada Majapahit. 

Kemudian ada Suhita

Setelah masa pemerintahan Kusumawardhani selesai, maka tahta kemudian jatuh kepada Suhita yang merupakan putra dari Wikramawardhana dengan seorang selir. Dari sinilah kemudian muncul konflik yang akan membawa kepada keruntuhan Kerajaan Majapahit. 

Bhre Wirabhumi alias Minak Jinggo merasa lebih berhak atas tahta Kerajaan Majapahit dari pada Suhita dan kemudian perang saudara yang disebut dengan Perang Paregreg pada tahun 1401-1406. 

Wirabhumi atau Minak Jinggo akhirnya berhasil dibunuh oleh Damar Wulan. Perang Paregreg ini kemudian membuat banyak daerah yang berada di bawah kekuasaan Majapahit memisahkan diri dan semakin membuat Majapahit terpuruk. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *